Jumat, 05 Juli 2013

-030713-

ya. saya masih memikirkannya yang seharusnya tidak saya pikirkan.
kami sudah lama berpisah. bukan, lebih tepatnya putus, karena dulu status kami hanya 'pacaran'.
ke-putus-an kami, bukan, ke-putus-an si-dia yang agak cukup menggoncang sisi psikologis saya waktu itu,
sepertinya masih berdampak hingga saat ini.
saya sudah move on. namun perasaan sakit ini belum bisa menghilang dari hati dan pikiran saya.
terutama jika ibu saya mengungkit masalah ini kembali, rasa sakit ini yang sebelumnya
sudah mengendap kembali muncul ke permukaan. pedih jika mengingat masa "menyeramkan" itu kembali.
rasanya waktu itu sampai saya ingin pergi ke Rumah Sakit Jiwa atau ke Psikolog untuk memeriksakan kondisi kejiwaan
saya waktu itu.
depresi. iya, saya merasa mengalami depresi yang teramat berat waktu itu.seakan dunia ini hancur runtuh. bukan karena beban perasaan sakit hati,
namun juga beban akademik, beban mental, dan beban-beban yang lain. semua hal tersebut saya lalui dengan menangis.
hanya menangis sendirian di kamar. tidak ada yang menghibur.no one. saat itu nasihat orangtua saya pun tidak cukup menghibur saya.
semua masalah-masalah tersebut membuat saya kurang fokus terhadap sesuatu, hampir akademik saya terbengkalai.
dan hal tersebut juga menyisakan trauma mendalam bagi saya. saya takut. takut jatuh cinta.
sungguh menggelikan. saya takut jatuh cinta. hahaha. lucu.
padahal si-dia sudah jatuh cinta dua kali, dan saya justru trauma. sungguh menggelikan.mungkin lebih tepatnya mengerikan.
saya jadi teringat salah satu dosen saya, beliau pernah bercerita di kelas kami tentang masa lalu beliau.
beliau merasa bersalah terhadap "korban-korban cinta" beliau karena telah menyakiti mereka dan
beliau ingin meminta maaf, namun tidak tau harus bagaimana melakukannya, karena beliau yakin diantara mereka pasti
ada yang masih merasa sakit hati.
nah yang jadi masalah di pikiran saya adalah apakah si-dia itu juga berpikir hal yang sama dengan dosen saya tadi?
ya setiap orang memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda. namun saya berharap rasa sakit yang amat sentimentil ini
segera menghilang dari hati dan pikiran saya.
yah ini hanya ungkapan hati belaka. maaf bila tulisan saya kurang berkenan.
salam.